Pilih Cepat daripada Ribet: Mengapa Petani Lebih Suka Jual Bambu Gelondongan?
Jika kita menengok ke kebun-kebun warga, ada sebuah fenomena yang unik: mayoritas petani lebih suka menjual bambu mereka dalam bentuk gelondongan (batangan utuh) langsung dari rumpunnya, daripada mengolahnya terlebih dahulu.
Padahal, secara hitung-hitungan, nilai tambah bambu olahan jauh lebih tinggi. Lantas, apa yang membuat pola "jual putus" ini tetap bertahan hingga sekarang? Yuk, kita bedah alasannya!
1. Jurus Praktis: Sekali Telepon, Cuan Datang
Bagi petani, kepraktisan adalah segalanya. Menjual bambu gelondongan berarti mereka tinggal memanggil tengkulak atau pengepul. Tidak perlu pusing memikirkan transportasi atau ke mana harus menjualnya.
Namun, kepraktisan ini ada harganya. Tengkulak biasanya memonopoli harga karena mereka punya posisi tawar (bargaining power) yang lebih kuat. Apalagi, seringkali petani menjual bambu karena terdesak kebutuhan mendesak. Kondisi "butuh uang cepat" inilah yang membuat posisi petani lemah saat negosiasi harga.
![]() |
| Bambu Petung yang rumpunnya jarang di tebang |
2. Menghindari "Modal di Depan" yang Berat
Menebang bambu itu bukan perkara mudah, lho! Dibutuhkan tenaga kerja terlatih dan alat yang memadai agar batang bambu tidak pecah dan rumpunnya tetap terjaga.
Jika petani harus mengelola penebangan sendiri, mereka harus mengeluarkan biaya di awal untuk upah tukang tebang. Karena ingin menghindari risiko biaya dan enggan repot mengurus teknis lapangan, menjual bambu yang masih berdiri di kebun kepada pengepul menjadi pilihan yang paling masuk akal bagi mereka.
3. Sudah Menjadi Budaya Turun-Temurun
Pola kerja menjual bambu gelondongan bukan hal baru. Ini adalah praktik yang sudah dilakukan selama puluhan tahun, bahkan lintas generasi. Karena sudah menjadi kebiasaan lama, cara ini dianggap sebagai sesuatu yang normal dan wajar. Jarang ada petani yang merasa perlu mengubah pola tersebut selama dirasa masih memberikan hasil, meskipun tipis.
4. Bebas Tekanan "Standar Industri"
Menjual ke pabrik atau industri besar memang terdengar menjanjikan secara harga, tapi syaratnya pun tidak main-main. Industri biasanya menuntut:
Kualitas tinggi: Tidak boleh ada cacat atau lubang.
Standar usia: Bambu harus benar-benar tua (biasanya di atas 3-4 tahun).
Kontinuitas: Harus ada pasokan rutin dalam jumlah tertentu.
Bagi petani mandiri, aturan ini terasa menyesakkan. Dengan menjual ke tengkulak, mereka merasa lebih bebas mengelola bambu mereka tanpa harus terikat standar yang rumit atau kuota produksi yang membebani.
![]() |
| Bambu Menuju Industrialisasi |
5. Masalah Skala: "Cuma Punya Sedikit Kok"
Faktor terakhir adalah jumlah kepemilikan. Banyak petani yang hanya memiliki beberapa rumpun bambu di lahan sempit atau di pinggir sungai. Logikanya sederhana: "Paling saya cuma panen beberapa batang, buat apa cari rantai pasok yang ribet? Pengepul saja sudah cukup."
Beda ceritanya jika seorang petani memiliki 200 hingga 1.000 rumpun bambu. Di titik itulah mereka akan mulai berpikir secara industri, mencari pembeli tangan pertama, dan mulai mempertimbangkan volume serta rantai pasok yang lebih efisien.
Kesimpulan
Menjual bambu gelondongan memang pilihan paling nyaman bagi petani kecil saat ini. Meski keuntungannya tidak maksimal, faktor kecepatan, minim risiko modal, dan kebebasan menjadi alasan utama mengapa cara lama ini tetap bertahan.
Tantangannya ke depan adalah bagaimana mengedukasi petani agar bisa berkelompok (berkoperasi) sehingga mereka memiliki kekuatan ekonomi untuk masuk ke pasar industri tanpa harus merasa terbebani secara individu.
.png)
.png)

Posting Komentar