Refleksi dari Andalas: Mengapa Bumi Kita Semakin Rapuh?

Table of Contents
Hutan Sumatera Saat Belum Tersentuh Banyak Tangan

Oleh: Ari Wahyono, Sekretaris Yayasan Mutiara Bambu Nusantara 

Berita duka kembali mengetuk pintu hati kita. Belum kering air mata, banjir bandang dan tanah longsor kembali menerjang saudara-saudara kita di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Ribuan warga terdampak, harta benda lenyap, dan nyawa melayang.Sebagai sesama anak bangsa, hati kita teriris. Sudah lebih dari 600 jiwa menjadi korban, dan lebih dari 50.000 warga mengungsi, bahkan ratusan orang dilaporkan hilang dan belum ditemukan hingga hari ini.

Namun, di balik doa yang kita langitkan, terselip sebuah pertanyaan besar yang harus berani kita jawab: Mengapa intensitas bencana ini semakin sering, semakin ganas, dan semakin mematikan?Jawabannya ada pada hilangnya "Ember Raksasa" penampung air kita.Mari kita bicara data. Wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejatinya adalah benteng hidrologis raksasa. Berdasarkan data statistik kehutanan, total luas daratan kawasan hutan di ketiga provinsi ini mencapai angka yang fantastis: Aceh ($\pm$ 2,9 juta Ha), Sumatera Utara (1,8 juta Ha), dan Sumatera Barat (1,5 juta Ha).Total ada sekitar 6,2 Juta Hektare kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai "spons" penyerap air.

Bayangkan Skenario Ini:Saat hujan lebat turun dengan curah 100 mm per hari (kategori hujan sangat lebat yang sering memicu banjir), maka setiap 1 Hektare tanah akan diguyur air sebanyak 1.000 Meter Kubik (1 Juta Liter).Jika Hutan Masih Utuh:Akar-akar pohon dan serasah hutan mampu menyerap hingga 90% air tersebut. Artinya, dari 1 juta liter air hujan, 900.000 liter tersimpan aman di dalam tanah menjadi cadangan mata air, dan hanya 100.000 liter yang mengalir pelan ke sungai.

Jika Hutan Telah Gundul (Kritis):Tanah yang terbuka kehilangan kemampuan menyerap air. Kebalikannya terjadi: 90% air (900.000 liter) langsung menjadi Air Larian (Run-off). Air ini tidak masuk ke tanah, tapi meluncur deras di permukaan, membawa lumpur, batu, dan kayu gelondongan. 


Ancaman "Air Liar"

Bayangkan jika 100.000 Hektare saja dari hutan di pegunungan Bukit Barisan itu rusak atau beralih fungsi. Maka saat hujan lebat, ada 90 JUTA METER KUBIK air liar yang tidak tertampung tanah.Volume air sebanyak itu setara dengan menumpahkan 36.000 Kolam Renang Olimpiade secara bersamaan ke pemukiman warga di hilir.Inilah yang kita saksikan di Andalas. Sungai-sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang "ditolak" oleh tanah di hulu.Bencana ini adalah cerminan rapuhnya daya dukung lingkungan kita. 

Ini bukan sekadar "amukan alam", melainkan konsekuensi matematika dari berkurangnya luasan hutan.Pemulihan (recovery) lahan kritis kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan syarat mutlak untuk keselamatan nyawa. Kita butuh solusi untuk mengembalikan fungsi "spons" tersebut secepat mungkin. Kita butuh vegetasi yang mampu menahan tanah dan menyimpan air dalam volume masif.Simak terus ulasan Yayasan Mutiara Bambu Nusantara selama 7 hari ke depan. 

Besok, kita akan membedah: Mengapa lahan gundul adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja?


#PrayForSumatera #RefleksiBencana #DaruratHutan #YayasanMutiaraBambuNusantara #KonservasiBambu #SaveOurEarth #ReboisasiHulu 

Posting Komentar