Kekuatan Akar Rumput: Peran Masyarakat Desa dalam Mitigasi Bencana
![]() |
| Bambu Memiliki Banyak Keistimewaan |
Oleh: Ari Wahyono, Sekretaris Yayasan Mutiara Bambu Nusantara
Sebagus apapun program penghijauan, dan secanggih apapun teknologi bibit yang kita punya, jika tidak melibatkan masyarakat setempat, niscaya akan sia-sia.
Dalam dunia konservasi, ada istilah menarik: "Pagar Sosial lebih kuat daripada Pagar Kawat."
Masyarakat yang tinggal di Desa Penyangga (Buffer Villages) di lereng-lereng bukit adalah garda terdepan. Merekalah yang pertama kali mencium bau tanah longsor, merekalah yang pertama melihat air sungai meluap, tetapi seringkali suara mereka tidak terdengar sampai ke kota.
Yayasan Mutiara Bambu Nusantara menempatkan Masyarakat bukan sebagai Objek (kuli tanam), melainkan sebagai Subjek (Pelaku Utama). Mengapa peran mereka sangat vital?
1. Kearifan Lokal sebagai Mitigasi Nenek moyang kita di Nusantara sebenarnya sudah punya sistem zonasi. Ada wilayah "Hutan Larangan" di hulu yang tabu untuk ditebang. Sayangnya, desakan ekonomi dan kurangnya edukasi mengikis nilai ini. Tugas kita bukan menggurui, tapi membangkitkan kembali memori kolektif tersebut dengan pendekatan saintifik bambu.
2. Mata dan Telinga Hutan Pemerintah tidak mungkin mengawasi jutaan hektar hutan 24 jam. Masyarakat desalah yang mampu melakukannya. Ketika mereka paham bahwa satu rumpun bambu yang mereka jaga di bukit setara dengan menyelamatkan satu kampung di bawahnya, mereka akan membelanya mati-matian.
3. Gerakan Gotong Royong Mitigasi bencana tidak bisa individualis. Kita perlu mengaktifkan kembali Gotong Royong.
Kelompok Tani Hutan (KTH) perlu dibekali ilmu pembibitan.
Pemuda desa perlu dilatih menjadi "Ranger" atau relawan siaga bencana.
Ibu-ibu desa dilatih pengolahan pasca-panen (kerajinan/pangan) agar nilai tambah bambu dinikmati di desa.
Fakta Lapangan: Desa yang memiliki komunitas masyarakat sadar lingkungan (Community Based Forest Management) terbukti memiliki tingkat kerusakan hutan yang jauh lebih rendah dibanding hutan negara yang dijaga ketat aparat namun tanpa pelibatan warga.
Bencana di Sumatera mengajarkan kita: Kita tidak bisa melawan alam sendirian. Kita butuh barisan rakyat yang sadar, terdidik, dan berdaya.
Lantas, bagaimana cara memulainya? Bagaimana menyatukan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam satu gerakan besar ini?
Diperlukan RoadMap atau Peta Jalan yang sistematis dan di sepakati berbagai fihak.
#KekuatanAkarRumput #MasyarakatAdat #DesaTangguhBencana #GotongRoyong #YayasanMutiaraBambuNusantara #PagarSosial #MitigasiPartisipatif
.png)
Posting Komentar