Bahaya Laten Lahan Gundul: Bom Waktu di Lereng Kritis
![]() |
| Hutan yang mulai gundul |
Oleh: Ari Wahyono, Sekretaris Yayasan Mutiara Bambu Nusantara
Melanjutkan pembahasan kemarin, mari kita perhatikan satu fakta visual yang mengerikan dari bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh baru-baru ini.
Lihat warna airnya. Air yang menerjang pemukiman warga bukanlah air bening, melainkan lumpur pekat berwarna cokelat yang membawa gelondongan kayu dan bebatuan besar.
Dalam istilah lokal Sumatera Barat dikenal sebagai "Galodo". Fenomena ini adalah bukti nyata bahwa masalah utamanya bukan hanya pada "banyaknya air hujan", tetapi pada "hilangnya pengikat tanah".
Hujan Ekstrem vs Lahan Telanjang Menurut standar BMKG, curah hujan di atas 100 mm/hari dikategorikan sebagai hujan sangat lebat/ekstrem. Hujan dengan energi kinetik sebesar ini, jika jatuh ke hutan yang gundul, ibarat ribuan martil kecil yang memukul permukaan tanah (Splash Erosion).
Mari bicara data teknis: Koefisien Aliran Permukaan (C). Ini adalah angka yang menentukan berapa persen air hujan yang menjadi air larian liar.
Pada Hutan Lebat: Nilai C hanya berkisar 0,05. Artinya, 95% air hujan diredam oleh tajuk pohon, jatuh perlahan ke serasah daun, dan meresap tenang ke dalam tanah (infiltrasi).
Pada Lahan Terbuka/Ladang Jagung di Lereng: Nilai C melonjak drastis ke angka 0,7 – 0,9. Artinya, hampir 90% air hujan tidak masuk ke tanah, melainkan langsung meluncur deras di permukaan.
Mekanisme "Bom Waktu" Longsor Lalu, kemana sisa 10% air yang meresap di lahan gundul itu? Di sinilah bahaya latennya.
Pada lereng dengan kemiringan ekstrem (di atas 40%), tanah yang tidak dicengkeram akar pohon akan mengalami Kejenuhan (Saturation).
![]() |
| Banjir adalah ancaman kehidupan manusia dan apapun disana |
Pori-pori tanah terisi penuh oleh air.
Ikatan antar butiran tanah melemah hingga tanah berubah konsistensi menjadi seperti "bubur".
Terbentuklah apa yang disebut Bidang Gelincir (Slip Plane).
Ketika gravitasi bekerja, massa tanah basah yang berat ini meluncur ke bawah sebagai Tanah Longsor. Longsoran ini kemudian masuk ke alur sungai, membendung arus sesaat, lalu jebol menerjang ke hilir membawa material mematikan. Inilah resep dari bencana Flash Flood atau Banjir Bandang yang kita saksikan di berita.
Fakta yang Tidak Bisa Dibantah Tanah di pegunungan vulkanis (seperti Bukit Barisan) memang subur, tetapi strukturnya gembur dan sensitif terhadap air. Membiarkan lereng-lereng ini tanpa vegetasi kayu yang kuat sama saja dengan merakit bom waktu.
Menanam tanaman semusim (sayur/palawija) di kemiringan curam tanpa terasering dan penguat tebing adalah tindakan bunuh diri ekologis.
Kita Butuh Solusi Cepat Reboisasi dengan pohon kayu biasa seringkali terkendala waktu. Pohon butuh 15-20 tahun untuk besar. Sementara hujan ekstrem tidak mau menunggu pohon tumbuh.
Kita membutuhkan vegetasi spesialis yang:
✅ Mampu tumbuh sangat cepat (fast growing).
✅ Memiliki sistem perakaran serabut yang rapat dan dalam (seperti jaring kawat).
✅ Mampu "menjahit" tanah yang labil agar tidak meluncur.
Adakah tanaman "super" tersebut? Jawabannya ada, dan ia adalah harta karun Nusantara yang sering kita remehkan.
Besok, saya akan mengulas tentang "Beton Hijau" ciptaan Tuhan yang kemampuan hidrologis dan mekanisnya dalam menahan tanah jauh melampaui beton buatan manusia.
#LahanKritis #StopGalodo #EdukasiLingkungan #YayasanMutiaraBambuNusantara #BambuUntukNegeri #MitigasiBencana #FaktaBanjir
.png)
.png)
Posting Komentar